Merebahkan Badan di Le Shangri-La
Merebahkan Badan di Le Shangri-La

Merebahkan Badan di Le Shangri-La

2017 | Ini bukan promosi; tetapi pemandangan di Le Shangri-La melengkapi kenikmatan perjalanan kami. Setelah lelah berkeliling Pulau Samosir, kami kembali ke penginapan untuk merebahkan badan. Penginapan ini tidak susah untuk ditemukan, tepat berada di Simanindo. Pondok di penginapan ini diatur sedemikian rupa langsung menghadap ke Danau Toba. Saat sampai di penginapan kami sedikit cemas, jalannya berbatu dan menurun sedikit curam. Keraguan kami sirna saat disambut hangat oleh sang pemiliki penginapan, saat kami bertemu—hati ini berucap "Ah, syukurlah kami sampai di tempat yang tepat." Saat hari sudah malam, kami sempat menikmati angin semilir malam hari ditemani seruan jangkrik dan deru ombak kecil yang berasal dari danau. "Eh ada ombak? Seriusan?" Serius! Tapi kecil banget, nggak sebesar ombak laut pastinya. Malam itu, saat kami bertiga diatas tempat tidur yang sama, berdesakan, dan berebut selimut; aku berucap "Besok berenang seru kayaknya!" dengan penuh keyakinan Kak Nia menyahut "Dingin lho dek." Yuni pun menambahkan "Eh ayo kak, kita coba berenang di danau, kapan lagi ye kan." Aku pun mengiyakan, "Oke sip, besok kita berenang!"

Esok harinya, tentu obrolan malam sebelum tidur itu hanyalah wacana. Kami bertiga memilih untuk meringkuk di dalam selimut, karena udara pagi begitu dingin menusuk hingga ke tulang. Waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB tetapi langit masih biru kegelapan menanti datangnya matahari untuk menghangatkan. Perbedaan waktu di Samosir dengan Surabaya begitu kentara, sehingga sering membuatku bangun "agak" siang. Prinsipku, biarlah sinar matahari yang membangunkan ku dan pagi itu matahari mulai terbit pukul 6.13 WIB, tentu aku bergegas tidak ingin kehilangan momen untuk diabadikan. Pagi yang teduh membuat pikiran jernih dan cemerlang, aku bahkan membuat sebuah tulisan yang berjudul Tanah Leluhur. Aku menyadari bahwa perjalanan ini akan segera berakhir, selesai sudah perjalanan di Samosir dan kemudian kami akan kembali ke rumah masing-masing. Aku cukup puas dan bersyukur atas alam yang diperuntukkan Sang Pencipta bagi kita. Aku semakin mencintai tanah leluhurku ini, dan membuatku berjanji akan terus kembali di setiap tahunnya 😉 Kami menikmati sarapan berupa nasi goreng spesial plus telor mata sapi. Jangan tanya mana fotonya ya, kami terlalu lahap untuk menyantapnya! Mengucapkan perpisahan kepada pulau yang indah ini begitu berat, terlalu banyak kenangan indah yang kami rajut dan rekam.

Terima kasih Samosir!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!